Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) bakal memiliki Bandara termegah di
Kalimantan Tengah (Kalteng). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kobar terus
memantapkan pembangunan Bandara Internasional di Sebuai, Kecamatan
Kumai. Pembangunan bandara tersebut dinilai layak mengingat pertumbuhan
penduduk yang terus meningkat serta untuk jangka panjang.
“Rencana
pembangunan bandara internasional di Sebuai terus dimantapkan, mengingat
sarana transfortasi udara yang kian diminati oleh masyarakat baik
lokal, nasional hingga internasional. Sehingga pembangunan tersebut
tidak ada salahnya dilakukan karena semua itu demi kepentingan
masyarakat,” kata Wakil Bupati Kobar Bambang Purwanto.
Wakil Bupati menegaskan pihaknya serius membangun bandara yang bakal
dibangun dengan megah tersebut. Hal tersebut didasari keberadaan
bandara berskala internasional sangat diperlukan kedepannya. Kobar juga
terkenal dengan sektor pariwisata dan perkebunan yang melimpah. Sehingga
kebutuhan masyarakat untuk menggunakan trasfortasi udara juga lebih
banyak.
Menurut Bambang dengan adanya Bandara Internasional,
diharapkan Kobar lebih berkembang lagi. Selain itu, investor juga
ditargetkan semakin tertarik untuk berbisnis di Kobar. Secara tidak
langsung pembangunan di Kobar akan melesat dengan cepat mengingat satu
faktor pertumbuhan daerah adalah ketersedian sarana transfortasi yang
memadai.
Wabup menuturkan, Kobar memang sudah memiliki bandara, namun
bandara tersebut milik TNI. Karena itu Pemkab juga harus mempersiapkan
dengan baik. Keseriusan Pemkab membangun bandara itu dibuktikan dengan
alokasi anggaran untuk master plan dan study kelayakan pembangunan
bandara.
“Dalam hal ini memang pemerintah sangat serius membangun
bandara di Sebuai. Selama ini yang dipermasalahkan jauhnya. Tapi jika
dipikir ke depan lokasi yang cocok dan luas itu adalah di Sebuai. Agar
tidak terlalu jauh untuk menuju bandara, maka ada alternatif akan
dibangunkan jalan tengah, yakni lewat pasir panjang, sehingga jangakunya
itu lebih dekat,” jelasnya, seraya menambahkan pembanguanan bandara di
Sebuai lebih efektif, karena tanahnya datar sehingga pembangunan lebih
maksimal.
Bambang menuturkan, pembangunan bandara itu tidak dilakukan
Pemkab sendiri melainkan bekerjasama dengan pihak lain dengan sistem
saling menguntungkan.
Memang harus ada kerja sama dengan pihak lain,
Pasalnya pembangunan bandara interansional itu menghabiskan dana ratusan
miliar. Meski dibantu APBN, tapi harus bekerjasama dengan pihak lain,
entah itu siapa yang jelas yang menghasilkan bagi Pemkab, itu yang
dipilih nantinya,” tandasnya. (Sumber Radar Sampit, 18 Juli 2013)
Jumat, 19 Juli 2013
Kamis, 18 Juli 2013
Perjuangan Melawan NICA dan Sekutu di Kotawaringin, Kalimantan Barat, 1945
Pergolakan di Kotawaringin, Kalimantan Barat,
antara para Pejuang RI dengan NICA yang dibantu Sekutu sangat tinggi
intensitasnya, boleh dikatakan sangat sengit. Australia
yang mendukung penjajah Belanda untuk datang lagi ke Indonesia,
membantu Belanda dengan memberikan kesempatan NICA masuk ke Indonesia.
Australia membonceng NICA secara diam-diam tak lama sesudah Jepang
menyerah.
Sekutu merupakan negara-negara anggota yang
tergabung dalam South West Pasific Command (SWPC) yang tergabung dalam
negara pemenang perang dunia II juga sangat mendukung pembentukan
kembali Pemerintah Hindia Belanda. Terbukti SWPC yang dipimpin
Jenderal McArthur (AS) membentuk South East Asia Command (SEAC) di
bawah pimpinan Laksamana Lord Mountbatten (Inggris). Australia
merupakan salah satu dari pihak Sekutu.
Setelah berita sampai di Kotawaringin tentang
perjuangan melawan Sekutu di Jawa. Untuk menghadapi kedatangan tentara
asing ke Indonesia yang sudah diproklamasikan maka berdirilah dengan
segera panitia Penyokong Republik Indonesia dan Angkatan Muda. Sang
Merah Putih berkibar dimana-mana.
Kabar perjuangan keras di pulau Jawa telah
memberikan peringatan penting terhadap para pejuang, terutama TKR di
Kotawaringin dan daerah Kalimantan Barat pada umumnya untuk
berhati-hati dan waspada. Para pemuda membentuk kesatuan-kesatuan
untuk turut dalam perjuangan.
Rakyat kemudian memilih Pangeran Aria Bendra
sebagai Kepala Pemerintahan Republik Indonesia ( yang kemudian
ditangkap oleh NICA). Angkatan Muda menurunkan bendera Belanda yang
dikibarkan pekarangan istana dan menyita
kendaraan-kendaaraan Sultan.
Pada bulan Desember 1945, Sultan Alamsyah yang
sebenarnya pejabat Negara Indonesia Serikat berbalik mendukung RI dan
mengikuti jejak para pemuda-pemuda pejuang.
Sebelum bulan Nopember 1945, pihak Belanda telah mengirimkan utusannya
ke Sampit dan Kotawaringin dengan maksud meredam rakyat disana agar
tidak memberikan perlawanan terhadap tentara Australia dan NICA, yakni
bekas kontrolir Van Der Ploeg yang menerangkan kepada tokoh-tokoh
masyarakat tentang maksud kedatangan NICA, yakni untuk menolong rakyat
memperbaiki perekonomiannya yang rusak. Soal politik dan soal
pemerintahan tidak dipercakapkan dan perundingan secara terangan-
terangan tidak diselenggarakan, umumnya hanya beberapa orang saja
dikunjungi atau diundang.
Para pemuda dan rakyat di Sampit dan Kotawaringin
masih menahan diri dan berusaha untuk melakukan negosiasi agar tidak
terjadi konflik senjata yang bisa mengorbakan jiwa. Utusan tersebut
kembali ke Banjarmasin dengan membawa beberapa puluh karung gula dan
beras dari Sampit, tetapi pihak Australia dan NICA berbohong dan justru
militer ke Sampit dan Kotawaringin.
Pada tanggal 14 Januari 1946, di Pangkalan Bun
berdatanganlah lebih kurang 2 kompi KNIL. Rakyat dan para pemuda pejuang
sudah tidak percaya lagi kepada pihak Sekutu yang awalnya akan datang
untuk memberikan bantuan ekonomi, tetapi justru membawa pasukan
bersenjata beerat. Pertempuran tidak bisa dielakkan lagi yang segera
berkobar dan berlangsung lebih kurang dua hari dua malam antara rakyat
yang tak bersenjata dengan kira – kira 400 orang serdadu bersenjata
lengkap. Pangkalan Bun berhasil mereka duduki dan istana dimasukinya.
Tentara Sekutu tidak menduga kalau
perlawanan rakyat akan sangat kuat dan keras. Mereka menilai perang
akan berlangsung lama, sehingga mereka berusaha untuk meredam
pertempuran rakyat kembali dengan upaya diplomasi curang. Sultan
Alamsyah yang sebenarnya sudah mendukung para pemuda pejuang kemudian
diminta untuk mengumpulkan rakyat guna mendengarkan pidato seorang
Mayor Belanda.
Dalam pertemuan antara rakyat dan para
perwira Australia dan NICA Belanda, seorang pemuda tak dapat menahan
gelora hatinya, lalu melepaskan tembakan sehingga rakyat menjadi
kacau. Pertemuan itu bubar dan kembali terjadi pertempuran yang sangat
sengit.
Kotawaringin semenjak itu bergolak terus
itu yang oleh Husin Hamzah dan kawan – kawan dimaksudkan untuk
dijadikan pangkalan tentara penyerbu diKalimantan.
Beberapa kali terjadi pertempuran di
Pangkalan Bun dan kampong–kampung disekitarnya. Di kalangan militer
Belanda dan juga rakyat, banyak menjadi korban . Beberapa kampung
habis dibakar oleh NICA. Bila ada rakyat yang berhasil mereka tangkap ,
maka ia akan dipukul sampai babak belur. Beberapa orang sampai jatuh
pingsan dan patah-patah tulangnya. Ada yang disuruh berdiri
ditengah-tengah bensin yang menyala-nyala. Harta orang kampung habis
digarong oleh militer NICA.
Semua pegawai Republik di tangkap,
demikian pula angkatan-angkatan muda. Pegawai- pegawainya serta
rakyatnya yang dengan ikhlas mengorbankan harta benda dan jiwa raga
mereka untuk membela kehormatan negerinya, meringkuk didalam penjara
di Pangkalan Bun dan diBanjarmasin. Kira-kira empat bulan lamanya Sang
Merah Putih sempat berkibar di pedalaman daerah Kotawaringin, tetapi
setelah tentara Belanda dan Australia berhasil menguasai keadaan Sang
Saka Merah Putih diturunkan.
Referensi : Dr. A.H. Nasution, "Sekitar
Perang Kemerdekaan Indonesia", Departemen Pendidikand an Kebudayaan.
sumber repost : http://news.indonesianvoices.com/index.php/sejarah-kemerdekaan/1293-kalimantan-barat-1945
Pangkalan Bun, Pangkalan Bunderan?
Pangkalan Bun adalah Ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat yang berada di
Provinsi Kalimantan Tengah. Sebagai kota tepian sungai yang dibelah
Sungai Arut, kota Pangkalan Bun memiliki keunikan dan daya tarik
tersendiri. Dikenal juga sebagai Kota Manis – akronim dari semboyan
Minat,Aman, Nikmat, Indah, dan Segar – Pangkalan Bun merupakan pintu
gerbang masuknya wisatawan asing ke Taman Nasional Tanjung Puting.
Bukan mengada-ada, tapi hampir sebagian besar rekan kerja yang untuk pertama kalinya datang ke Pangkalan Bun selalu menanyakan kenapa begitu banyak terdapat bunderan di dalam kota. Hampir setiap perempatan besar selalu dihiasi dengan bunderan di tengah-tengahnya.
“Pantesan namanya Pangkalan Bun,” kata seorang di antaranya. “Habis di mana-mana ada bunderan sih....”
Sebetulnya tidak ada hubungannya sama sekali karena sebutan Bun berasal dari nama pengusaha yang pernah berjaya di tepian Sungai Arut pada masa abad ke-16. Tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak bunderan di Pangkalan Bun – baik yang sudah populer maupun yang sedang dalam tahap pembangunan.
Berikut ini beberapa di antaranya :
1. Bunderan Pancasila
Merupakan bunderan yang paling populer di Pangkalan Bun. Terletak di simpang lima Jalan Malijo – Jalan Pasir Panjang – Jalan HM. Rafii – Jalan Iskandar – Jalan Pemuda. Dinamakan Bunderan Pancasila karena di tengahnya menjulang tugu dengan patung Garuda Pancasila di puncaknya.
Pada sore hari, ke lima trotoar yang mengelilinginya ‘hidup’ dengan kehadiran sejumlah kafe tenda. Mulai dari hidangan utama sampai sekedar makanan ringan tersedia di sana. Mulai dari sate sampai ikan bakar, mulai dari jagung rebus sampai gorengan. Ditambah lagi dengan sudut mainan anak-anak dan asesoris. Rasanya tidak ada warga Pangkalan Bun yang tidak mengenalnya.
Bunderan ini juga merupakan pusat pertemuan warga pada hari-hari besar. Pada malam Tahun Baru rasanya semua warga tumplek blek di situ. Pada malam minggu dan malam senin, kafe-kafenya dipenuhi remaja dan yang mengaku masih remaja. Duduk-duduk sekedar menikmati kentang goreng dan pop ice dengan harga murah meriah.
2. Bunderan Pangkalan Lima
Terletak di pintu keluar kota menuju Sampit. Lebih besar daripada Bunderan Pancasila tapi kurang populer karena letaknya yang jauh di luar kota. Di tengah bunderan ada tugu yang bisa kita naiki sampai setengah puncaknya. Di bagian luar lantai dasar tugu, terdapat lukisan relief yang menggambarkan perjuangan dan sejarah terbentuknya Kabupaten Kotawaringin Barat.
3. Bunderan Kalpataru
Dibangun di persimpangan Jalan Diponegoro – Jalan Prakusumayudha – Jalan Ciwaringin, sebagai simbol keberhasilan Pangkalan Bun meraih piala Adipura selama empat tahun berturut-turut (tahun 2007 – tahun 2010)
4. Bunderan Pramuka
Awalnya dinamakan Bunderan Beringin karena di tengah-tengahnya tumbuh pohon beringin. Tapi sejak 2008 beringinnya dibongkar – sesuatu yang amat disayangkan – diganti dengan monumen bertuliskan Praja Muda Karana. Terletak di perempatan Jalan Pramuka – Jalan Bhayangkara – Jalan HM. Rafii – Jalan Ahmad Wongso.
5. Bunderan Monyet
Populer sebagai Bunderan Monyet meski halaman yang ada di tengah bunderan dihiasi patung orangutan. Letaknya di persimpangan Jalan Pasir Panjang – Jalan Kumai – Jalan Padat Karya – Jalan Raya Kubu. Kehadiran patung orangutan itu seolah merupakan salam selamat datang bagi para pelancong yang akan berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting.
6. Bunderan-Bunderan Lain
Selain bunderan-bunderan tadi, masih banyak bunderan lain yang menghiasi kota Pangkalan Bun – baik yang sudah berdiri maupun yang sedang dalam tahap pengerjaan. Misalnya Bunderan Jam di pertigaan Korindo yang dihiasi jam besar di tengah-tengahnya. Ada juga Bunderan Imanuel di depan Gereja Imanuel, Bunderan Tudung Saji di Kampung Baru yang selintas mirip piring terbang UFO., dan Bunderan Jagung (yang puncaknya dihiasi patung jagung) di Pangkalan Lada.
Sebetulnya fenomena bunderan ini juga ditemui hampir di semua kota besar di Kalimantan Tengah. Bagi yang bermukim atau sering berkunjung ke Kalteng pasti sudah maklum. Tapi bagi yang belum pernah, atau yang hanya sesekali saja, mungkin akan percaya bahwa dinamakan Pangkalan Bun karena banyak bunderannya....
sumber : http://fotokita.net/cerita/134313947800_0009233/pangkalan-bun-pangkalan-bunderan
Bukan mengada-ada, tapi hampir sebagian besar rekan kerja yang untuk pertama kalinya datang ke Pangkalan Bun selalu menanyakan kenapa begitu banyak terdapat bunderan di dalam kota. Hampir setiap perempatan besar selalu dihiasi dengan bunderan di tengah-tengahnya.
“Pantesan namanya Pangkalan Bun,” kata seorang di antaranya. “Habis di mana-mana ada bunderan sih....”
Sebetulnya tidak ada hubungannya sama sekali karena sebutan Bun berasal dari nama pengusaha yang pernah berjaya di tepian Sungai Arut pada masa abad ke-16. Tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak bunderan di Pangkalan Bun – baik yang sudah populer maupun yang sedang dalam tahap pembangunan.
Berikut ini beberapa di antaranya :
1. Bunderan Pancasila
Merupakan bunderan yang paling populer di Pangkalan Bun. Terletak di simpang lima Jalan Malijo – Jalan Pasir Panjang – Jalan HM. Rafii – Jalan Iskandar – Jalan Pemuda. Dinamakan Bunderan Pancasila karena di tengahnya menjulang tugu dengan patung Garuda Pancasila di puncaknya.
Pada sore hari, ke lima trotoar yang mengelilinginya ‘hidup’ dengan kehadiran sejumlah kafe tenda. Mulai dari hidangan utama sampai sekedar makanan ringan tersedia di sana. Mulai dari sate sampai ikan bakar, mulai dari jagung rebus sampai gorengan. Ditambah lagi dengan sudut mainan anak-anak dan asesoris. Rasanya tidak ada warga Pangkalan Bun yang tidak mengenalnya.
Bunderan ini juga merupakan pusat pertemuan warga pada hari-hari besar. Pada malam Tahun Baru rasanya semua warga tumplek blek di situ. Pada malam minggu dan malam senin, kafe-kafenya dipenuhi remaja dan yang mengaku masih remaja. Duduk-duduk sekedar menikmati kentang goreng dan pop ice dengan harga murah meriah.
2. Bunderan Pangkalan Lima
Terletak di pintu keluar kota menuju Sampit. Lebih besar daripada Bunderan Pancasila tapi kurang populer karena letaknya yang jauh di luar kota. Di tengah bunderan ada tugu yang bisa kita naiki sampai setengah puncaknya. Di bagian luar lantai dasar tugu, terdapat lukisan relief yang menggambarkan perjuangan dan sejarah terbentuknya Kabupaten Kotawaringin Barat.
3. Bunderan Kalpataru
Dibangun di persimpangan Jalan Diponegoro – Jalan Prakusumayudha – Jalan Ciwaringin, sebagai simbol keberhasilan Pangkalan Bun meraih piala Adipura selama empat tahun berturut-turut (tahun 2007 – tahun 2010)
4. Bunderan Pramuka
Awalnya dinamakan Bunderan Beringin karena di tengah-tengahnya tumbuh pohon beringin. Tapi sejak 2008 beringinnya dibongkar – sesuatu yang amat disayangkan – diganti dengan monumen bertuliskan Praja Muda Karana. Terletak di perempatan Jalan Pramuka – Jalan Bhayangkara – Jalan HM. Rafii – Jalan Ahmad Wongso.
5. Bunderan Monyet
Populer sebagai Bunderan Monyet meski halaman yang ada di tengah bunderan dihiasi patung orangutan. Letaknya di persimpangan Jalan Pasir Panjang – Jalan Kumai – Jalan Padat Karya – Jalan Raya Kubu. Kehadiran patung orangutan itu seolah merupakan salam selamat datang bagi para pelancong yang akan berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting.
6. Bunderan-Bunderan Lain
Selain bunderan-bunderan tadi, masih banyak bunderan lain yang menghiasi kota Pangkalan Bun – baik yang sudah berdiri maupun yang sedang dalam tahap pengerjaan. Misalnya Bunderan Jam di pertigaan Korindo yang dihiasi jam besar di tengah-tengahnya. Ada juga Bunderan Imanuel di depan Gereja Imanuel, Bunderan Tudung Saji di Kampung Baru yang selintas mirip piring terbang UFO., dan Bunderan Jagung (yang puncaknya dihiasi patung jagung) di Pangkalan Lada.
Sebetulnya fenomena bunderan ini juga ditemui hampir di semua kota besar di Kalimantan Tengah. Bagi yang bermukim atau sering berkunjung ke Kalteng pasti sudah maklum. Tapi bagi yang belum pernah, atau yang hanya sesekali saja, mungkin akan percaya bahwa dinamakan Pangkalan Bun karena banyak bunderannya....
sumber : http://fotokita.net/cerita/134313947800_0009233/pangkalan-bun-pangkalan-bunderan
SEJARAH PERJUANGAN SUKU DAYAK
Sejarah Singkat
Sebelum abad XIV, daerah Kalimantan Tengah termasuk daerah yang masih murni, belum ada pendatang dari daerah lain. Saat itu satu-satunya alat transportasi adalah perahu. Tahun 1350 Kerajaan Hindu mulai memasuki daerah Kotawaringin. Tahun 1365, Kerajaan Hindu dapat dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Beberapa kepala suku diangkat menjadi Menteri Kerajaan.
Tahun 1620, pada waktu pantai di Kalimantan bagian selatan dikuasai oleh Kerajaan Demak, agama Islam mulai berkembang di Kotawaringin. Tahun 1679 Kerajaan Banjar mendirikan Kerajaan Kotawaringin, yang meliputi daerah pantai Kalimantan Tengah. Daerah-daerah tersebut ialah : Sampit, Mendawai, dan Pembuang. Sedangkan daerah-daerah lain tetap bebas, dipimpin langsung oleh para kepala suku, bahkan banyak dari antara mereka yang menarik diri masuk ke pedalaman.
Di daerah Pematang Sawang Pulau Kupang, dekat Kapuas, Kota Bataguh pernah terjadi perang besar. Perempuan Dayak bernama Nyai Undang memegang peranan dalam peperangan itu. Nyai Undang didampingi oleh para satria gagah perkasa, diantaranya Tambun, Bungai, Andin Sindai, dan Tawala Rawa Raca. Di kemudian hari nama pahlawan gagah perkasa Tambun Bungai, menjadi nama Kodam XI Tambun Bungai, Kalimantan Tengah.
Tahun 1787, dengan adanya perjanjian antara Sultan Banjar dengan VOC, berakibat daerah Kalimantan Tengah, bahkan nyaris seluruh daerah, dikuasai VOC. Tahun 1917, Pemerintah Penjajah mulai mengangkat masyarakat setempat untuk dijadikan petugas-petugas pemerintahannya, dengan pengawasan langsung oleh para penjajah sendiri. Sejak abad XIX, penjajah mulai mengadakan ekspedisi masuk pedalaman Kalimantan dengan maksud untuk memperkuat kedudukan mereka. Namun penduduk pribumi, tidak begitu saja mudah dipengaruhi dan dikuasai. Perlawanan kepada para penjajah mereka lakukan hingga abad XX. Perlawanan secara frontal, berakhir tahun 1905, setelah Sultan Mohamad Seman terbunuh di Sungai Menawing dan dimakamkan di Puruk Cahu.
Tahun 1835, Agama Kristen Protestan mulai masuk ke pedalaman. Hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, para penjajah tidak mampu menguasai Kalimantan secara menyeluruh. Penduduk asli tetap bertahan dan mengadakan perlawanan. Pada Agustus 1935 terjadi pertempuran antara suku Dayak Punan yaitu Oot Marikit dengan kaum penjajah. Pertempuran diakhiri dengan perdamaian di Sampit antara Oot Marikit dengan menantunya Pangenan atau Panganon dengan Pemerintah Belanda.
Menurut Hermogenes Ugang , pada abad ke 17, seorang misionaris Roma Katholik bernama Antonio Ventimiglia pernah datang ke Banjarmasin. Dengan perjuangan gigih dan ketekunannya hilir-mudik mengarungi sungai besar di Kalimantan dengan perahu yang telah dilengkapi altar untuk mengurbankan Misa, ia berhasil membapbtiskan tiga ribu orang Ngaju menjadi Katholik. Pekerjaan beliau dipusatkan di daerah hulu Kapuas (Manusup) dan pengaruh pekerjaan beliau terasa sampai ke daerah Bukit. Namun, atas perintah Sultan Banjarmasin, Pastor Antonius Ventimiglia kemudian dibunuh. Alasan pembunuhan adalah karena Pastor Ventimiglia sangat mengasihi orang Ngaju, sementara saat itu orang-orang Ngaju mempunyai hubungan yang kurang baik dengan Sultan Banjarmasin.
Dengan terbunuhnya Pastor Ventimiglia maka beribu-ribu umat Katholik orang Ngaju yang telah dibapbtiskannya, kembali kepada iman asli milik leluhur mereka. Yang tertinggal hanyalah tanda-tanda salib yang pernah dikenalkan oleh Pastor Ventimiglia kepada mereka. Namun tanda salib tersebut telah kehilangan arti yang sebenarnya. Tanda salib hanya menjadi benda fetis (jimat) yang berkhasiat magis sebagai penolak bala yang hingga saat ini terkenal dengan sebutan lapak lampinak dalam bahasa Dayak atau cacak burung dalam bahasa Banjar.
Di masa penjajahan, suku Dayak di daerah Kalimantan Tengah, sekalipun telah bersosialisasi dengan pendatang, namun tetap berada dalam lingkungannya sendiri. Tahun 1919, generasi muda Dayak yang telah mengenyam pendidikan formal, mengusahakan kemajuan bagi masyarakat sukunya dengan mendirikan Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Babu, M. Lampe , Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian, Lui Kamis , Tamanggung Tundan, dan masih banyak lainnya. Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, bergerak aktif hingga tahun 1926. Sejak saat itu, Suku Dayak menjadi lebih mengenal keadaan zaman dan mulai bergerak.
Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Mereka yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut ialah Hausman Babu, Anton Samat, Loei Kamis. Kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, C. Luran, H. Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik Riwut, dan masih banyak lainnya. Pakat Dayak meneruskan perjuangan, hingga bubarnya pemerintahan Belanda di Indonesia.
Tahun 1945, Persatuan Dayak yang berpusat di Pontianak, kemudian mempunyai cabang di seluruh Kalimantan, dipelopori oleh J. Uvang Uray , F.J. Palaunsuka, A. Djaelani, T. Brahim, F.D. Leiden. Pada tahun 1959, Persatuan Dayak bubar, kemudian bergabung dengan PNI dan Partindo. Akhirnya Partindo Kalimantan Barat meleburkan diri menjadi IPKI. Di daerah Kalimantan Timur berdiri Persukai atau Persatuan Suku Kalimantan Indonesia dibawah pimpinan Kamuk Tupak, W. Bungai, Muchtar, R. Magat, dan masih banyak lainnya.
Pakat Dayak
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pada tahun 1937, generasi muda Kalimantan yang telah mengenyam pendidikan formal, mengerti dan mengikuti perkembangan zaman, mengadakan pertemuan untuk membicarakan segala sesuatu mengenai urusan suku Dayak dan urusan tanah Dayak sendiri. Pertemuan ini diadakan karena mereka merasa prihatin akan situasi dan keadaan masyarakat sukunya. Dalam segala raad-raad atau komite-komite yang diadakan oleh pihak pemerintah Belanda, ataupun pihak partikulir, orang-orang dari suku Dayak tidak pernah diberi kesempatan untuk duduk di situ, walau kenyataannya poin pembicaraan adalah urusan tanah Dayak sendiri. Wakil Kalimantan di Volksraad Pejambon, juga tidak memberikan perhatian sehingga keinginan rakyat Dayak tidak pernah terdengar sampai Pejambon.
Kemudian didirikan suatu komite yang diberi nama Komite Kesadaran Suku Dayak. Tujuan utama pendirian ialah untuk menuntut hak dan kedudukan dalam Sidang Dewan Rakyat serta mengobarkan semangat suku Dayak akan nasib tanah airnya. Komite ini telah mengumpulkan beribu-ribu tanda tangan dari seluruh suku Dayak, baik yang berdomisili di Kalimantan, maupun yang sedang merantau, untuk meminta kedudukan dalam Dewan Rakyat yang disampaikan kepada Pemerintah Agung.
Maksud dan Tujuan Pendirian Pakat Dayak
Maksud dan tujuan pendirian Pakat Dayak, seperti tersebut dalam Anggaran Dasar, pasal 2 dan 3, adalah sebagai berikut:
Pasal 2
Dasar
Perhimpunan ini berdasar pada persatuan suku Dayak dengan mengindahkan persamaan hak dan kewajiban. Maksud persatuan ini ialah penggabungan seluruh suku Dayak, hingga merupakan satu golongan yang besar dan teratur.
Pasal 3
Tujuan
a. Mengejar ketinggalan derajat suku, baik dalam soal politik, sosial dan ekonomi.
b. Persatuan seluruh suku Dayak
c. Mengejar segala hak-hak yang diakui oleh Hukum Negara.
d. Mempertinggi kembali Adat Leluhur, serta Kebudayaan Suku.
Terlihat dari pernyataan tersebut bahwa perhimpunan Pakat Dayak bukan perhimpunan keagamaan, sehingga siapapun yang merasa seorang Dayak berhak menjadi anggota.
Dalam usianya yang keempat, Pakat Dayak telah beranggotakan empat ribu lima ratus orang. Cabangnya tersebar di Dusun Timur, Barito, Kapuas, Kahayan, Samarinda, Pontianak, Katingan, Mentaya, Pangkalan Bun, Sebangau, Seruyan, bahkan dua cabang berada di Jawa. Dalam waktu singkat, Pakat Dayak telah mampu membangun 9 buah sekolah serta berpuluh-puluh warung kecil.
sumber : http://hacker-indonesia-comunity.blogspot.com/2013/07/sejarah-perjuangan-suku-dayak.html
Sebelum abad XIV, daerah Kalimantan Tengah termasuk daerah yang masih murni, belum ada pendatang dari daerah lain. Saat itu satu-satunya alat transportasi adalah perahu. Tahun 1350 Kerajaan Hindu mulai memasuki daerah Kotawaringin. Tahun 1365, Kerajaan Hindu dapat dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Beberapa kepala suku diangkat menjadi Menteri Kerajaan.
Tahun 1620, pada waktu pantai di Kalimantan bagian selatan dikuasai oleh Kerajaan Demak, agama Islam mulai berkembang di Kotawaringin. Tahun 1679 Kerajaan Banjar mendirikan Kerajaan Kotawaringin, yang meliputi daerah pantai Kalimantan Tengah. Daerah-daerah tersebut ialah : Sampit, Mendawai, dan Pembuang. Sedangkan daerah-daerah lain tetap bebas, dipimpin langsung oleh para kepala suku, bahkan banyak dari antara mereka yang menarik diri masuk ke pedalaman.
Di daerah Pematang Sawang Pulau Kupang, dekat Kapuas, Kota Bataguh pernah terjadi perang besar. Perempuan Dayak bernama Nyai Undang memegang peranan dalam peperangan itu. Nyai Undang didampingi oleh para satria gagah perkasa, diantaranya Tambun, Bungai, Andin Sindai, dan Tawala Rawa Raca. Di kemudian hari nama pahlawan gagah perkasa Tambun Bungai, menjadi nama Kodam XI Tambun Bungai, Kalimantan Tengah.
Tahun 1787, dengan adanya perjanjian antara Sultan Banjar dengan VOC, berakibat daerah Kalimantan Tengah, bahkan nyaris seluruh daerah, dikuasai VOC. Tahun 1917, Pemerintah Penjajah mulai mengangkat masyarakat setempat untuk dijadikan petugas-petugas pemerintahannya, dengan pengawasan langsung oleh para penjajah sendiri. Sejak abad XIX, penjajah mulai mengadakan ekspedisi masuk pedalaman Kalimantan dengan maksud untuk memperkuat kedudukan mereka. Namun penduduk pribumi, tidak begitu saja mudah dipengaruhi dan dikuasai. Perlawanan kepada para penjajah mereka lakukan hingga abad XX. Perlawanan secara frontal, berakhir tahun 1905, setelah Sultan Mohamad Seman terbunuh di Sungai Menawing dan dimakamkan di Puruk Cahu.
Tahun 1835, Agama Kristen Protestan mulai masuk ke pedalaman. Hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, para penjajah tidak mampu menguasai Kalimantan secara menyeluruh. Penduduk asli tetap bertahan dan mengadakan perlawanan. Pada Agustus 1935 terjadi pertempuran antara suku Dayak Punan yaitu Oot Marikit dengan kaum penjajah. Pertempuran diakhiri dengan perdamaian di Sampit antara Oot Marikit dengan menantunya Pangenan atau Panganon dengan Pemerintah Belanda.
Menurut Hermogenes Ugang , pada abad ke 17, seorang misionaris Roma Katholik bernama Antonio Ventimiglia pernah datang ke Banjarmasin. Dengan perjuangan gigih dan ketekunannya hilir-mudik mengarungi sungai besar di Kalimantan dengan perahu yang telah dilengkapi altar untuk mengurbankan Misa, ia berhasil membapbtiskan tiga ribu orang Ngaju menjadi Katholik. Pekerjaan beliau dipusatkan di daerah hulu Kapuas (Manusup) dan pengaruh pekerjaan beliau terasa sampai ke daerah Bukit. Namun, atas perintah Sultan Banjarmasin, Pastor Antonius Ventimiglia kemudian dibunuh. Alasan pembunuhan adalah karena Pastor Ventimiglia sangat mengasihi orang Ngaju, sementara saat itu orang-orang Ngaju mempunyai hubungan yang kurang baik dengan Sultan Banjarmasin.
Dengan terbunuhnya Pastor Ventimiglia maka beribu-ribu umat Katholik orang Ngaju yang telah dibapbtiskannya, kembali kepada iman asli milik leluhur mereka. Yang tertinggal hanyalah tanda-tanda salib yang pernah dikenalkan oleh Pastor Ventimiglia kepada mereka. Namun tanda salib tersebut telah kehilangan arti yang sebenarnya. Tanda salib hanya menjadi benda fetis (jimat) yang berkhasiat magis sebagai penolak bala yang hingga saat ini terkenal dengan sebutan lapak lampinak dalam bahasa Dayak atau cacak burung dalam bahasa Banjar.
Di masa penjajahan, suku Dayak di daerah Kalimantan Tengah, sekalipun telah bersosialisasi dengan pendatang, namun tetap berada dalam lingkungannya sendiri. Tahun 1919, generasi muda Dayak yang telah mengenyam pendidikan formal, mengusahakan kemajuan bagi masyarakat sukunya dengan mendirikan Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Babu, M. Lampe , Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian, Lui Kamis , Tamanggung Tundan, dan masih banyak lainnya. Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, bergerak aktif hingga tahun 1926. Sejak saat itu, Suku Dayak menjadi lebih mengenal keadaan zaman dan mulai bergerak.
Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Mereka yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut ialah Hausman Babu, Anton Samat, Loei Kamis. Kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, C. Luran, H. Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik Riwut, dan masih banyak lainnya. Pakat Dayak meneruskan perjuangan, hingga bubarnya pemerintahan Belanda di Indonesia.
Tahun 1945, Persatuan Dayak yang berpusat di Pontianak, kemudian mempunyai cabang di seluruh Kalimantan, dipelopori oleh J. Uvang Uray , F.J. Palaunsuka, A. Djaelani, T. Brahim, F.D. Leiden. Pada tahun 1959, Persatuan Dayak bubar, kemudian bergabung dengan PNI dan Partindo. Akhirnya Partindo Kalimantan Barat meleburkan diri menjadi IPKI. Di daerah Kalimantan Timur berdiri Persukai atau Persatuan Suku Kalimantan Indonesia dibawah pimpinan Kamuk Tupak, W. Bungai, Muchtar, R. Magat, dan masih banyak lainnya.
Pakat Dayak
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pada tahun 1937, generasi muda Kalimantan yang telah mengenyam pendidikan formal, mengerti dan mengikuti perkembangan zaman, mengadakan pertemuan untuk membicarakan segala sesuatu mengenai urusan suku Dayak dan urusan tanah Dayak sendiri. Pertemuan ini diadakan karena mereka merasa prihatin akan situasi dan keadaan masyarakat sukunya. Dalam segala raad-raad atau komite-komite yang diadakan oleh pihak pemerintah Belanda, ataupun pihak partikulir, orang-orang dari suku Dayak tidak pernah diberi kesempatan untuk duduk di situ, walau kenyataannya poin pembicaraan adalah urusan tanah Dayak sendiri. Wakil Kalimantan di Volksraad Pejambon, juga tidak memberikan perhatian sehingga keinginan rakyat Dayak tidak pernah terdengar sampai Pejambon.
Kemudian didirikan suatu komite yang diberi nama Komite Kesadaran Suku Dayak. Tujuan utama pendirian ialah untuk menuntut hak dan kedudukan dalam Sidang Dewan Rakyat serta mengobarkan semangat suku Dayak akan nasib tanah airnya. Komite ini telah mengumpulkan beribu-ribu tanda tangan dari seluruh suku Dayak, baik yang berdomisili di Kalimantan, maupun yang sedang merantau, untuk meminta kedudukan dalam Dewan Rakyat yang disampaikan kepada Pemerintah Agung.
Maksud dan Tujuan Pendirian Pakat Dayak
Maksud dan tujuan pendirian Pakat Dayak, seperti tersebut dalam Anggaran Dasar, pasal 2 dan 3, adalah sebagai berikut:
Pasal 2
Dasar
Perhimpunan ini berdasar pada persatuan suku Dayak dengan mengindahkan persamaan hak dan kewajiban. Maksud persatuan ini ialah penggabungan seluruh suku Dayak, hingga merupakan satu golongan yang besar dan teratur.
Pasal 3
Tujuan
a. Mengejar ketinggalan derajat suku, baik dalam soal politik, sosial dan ekonomi.
b. Persatuan seluruh suku Dayak
c. Mengejar segala hak-hak yang diakui oleh Hukum Negara.
d. Mempertinggi kembali Adat Leluhur, serta Kebudayaan Suku.
Terlihat dari pernyataan tersebut bahwa perhimpunan Pakat Dayak bukan perhimpunan keagamaan, sehingga siapapun yang merasa seorang Dayak berhak menjadi anggota.
Dalam usianya yang keempat, Pakat Dayak telah beranggotakan empat ribu lima ratus orang. Cabangnya tersebar di Dusun Timur, Barito, Kapuas, Kahayan, Samarinda, Pontianak, Katingan, Mentaya, Pangkalan Bun, Sebangau, Seruyan, bahkan dua cabang berada di Jawa. Dalam waktu singkat, Pakat Dayak telah mampu membangun 9 buah sekolah serta berpuluh-puluh warung kecil.
sumber : http://hacker-indonesia-comunity.blogspot.com/2013/07/sejarah-perjuangan-suku-dayak.html
Awal Mula Pemukiman di Kotawaringin Barat
Permukiman awal
di Kalimantan Tengah tidak bisa dilepaskan dari daerah aliran sungai.
Di Kabupaten Kotawaringin Borrata terdapat empat sungai besar yakni
Sungai Jelai, Sungai Arut, Sungai Lamandau, Sungai Kumai, dan puluhan
anak sungai. Permukiman penduduk sejak berabad–abad yang lalu tumbuh di
sepanjang sungai ini. Sungai ini selain menjadi tempat mencari ikan
untuk kebutuhan makanan sehari-hari, juga tempat mandi dan
transportasi.
Penduduk asli yang tinggal di daerah ini adalah suku Dayak yang berindukkan Dayak Ngaju. Kedekatan suku dayak dengan sungai mengakibatkan mereka mengidentitaskan dirinya, atau masyarakatnya dengan nama sungai (Usop et al, 1995: I-6). Di Daerah Kotawaringin Borrata, sebelum berdirinya kerajaan Kotawaringin bermukim beberapa suku Dayak yakni (Nahan 1993):
1. Suku Dayak Arut: dibawah pimpinan Patih Patinggi Diumpang, berkedudukan di desa Pandau.
2. Suku Dayak Darat: dibawah pimpinan Demung Tujuh bersaudara yakni Demung Rayan, Demung Ajaran, Demung Cingka, Demung Guru, Demung Antah Gantung, Demung Semadi Jaya dan Demung Akar. Mereka mengirimkan upeti kepada kerajaan Majapahit, pakaian adat (ikat kepala) berwarna merah putih. Menurut legenda, tujuh demung tadi berasal dari tujuh gumpalan darah yang dilahirkan oleh Ratu Aji. Minyan Ronyai, istri Jambang Rawok yang datang dari Laut menggunakan perahu dan kemudian berdiam di atas bukit liarunting. Di Bukit inilah sang istri melahirkan tujuh gumpalan darah yang menjelma menjadi Demung Tujuh bersaudara yang merupakan cikal bakal suku Dayak Darat.
3. Suku Dayak Delang, Belantikan dan Batang Kawa: turunan Patih Sebatang dari pulau Sumatera dibawah pimpinan Jajar Malahui yang bergelar Patih Jayangpati, berkedudukan di desa Kudangan. Mengirimkan upeti kepada kerajaan Banjar sampai raja ketiga Sultan Mustainubillah.
4. Selain itu juga terdapat Dayak Jelai yang berdialek Jelai dan termasuk kelompok Dayak Ketungan. Mereka berdiam di daerah Jelai dan Kotawaringin Lama.
5. Dari keluarga dayak Ketungan ini, juga terdapat Dayak Bulik yang bertempat tinggal di daerah Sungai Bulik, di utara Kotawaringin Lama.
Menurut Ch.F.H. Dumont dahulu orang Dayak mendiami seluruh wilayah pulau baik daerah pantai maupun darat. Kedatangan orang Melayu, dari Sumatera dan Malaka mendesak orang Dayak yang bermukim di Pantai, mundur ke sebelah darat pulau Kalimantan. Selain orang Melayu, juga berdatangan orang Bugis dan Jawa mendiami pantai Timur dan Pantai Borrata pulau Kalimantan. Di Kalimantan sebelah Borrata berdatangan pula orang Tionghoa yang bekerja untuk pertambangan (Dumont, 1924).
Pada umumnya orang-orang Dayak memeluk agama Kaharingan atau Kristen. Sedang orang Dayak yang telah memeluk agama Islam menyebut dirinya Melayu. Di daerah Kotawaringin Borrata, orang melayu banyak yang bercampur dengan suku dayak dan menumbuhkan satu kebudayaan yang sangat unik baik dari arsitektur Bangunan maupun kehidupan sehari-hari.
Selain penduduk Melayu, beberapa ahli berpendapat bahwa sebagian penduduk sepanjang pantai laut Kalimantan, termasuk Kotawaringin Borrata adalah campuran antara penduduk asli (Dayak) dengan pendatang antara lain dengan orang Tionghoa yang datang sebagai pedagang atau pekerja. Orang-orang Tionghoa ini banyak kita jumpai di kota-kota seperti Pangkalan Bun, Sukamara, bahkan di kota sekecil Nanga Bulik. Selain itu, juga terjadi percampuran antara orang Dayak dengan orang India yang beragama Hindu.
Pembagian bangsa-bangsa Melayu di Kalimantan sukar kita jelaskan, karena perkataan suku Melayu digunakan hanya dalam pengertian perbedaan agama, tidak dalam pengertian asal usul suku/bangsa. Meskipun memang banyak juga bangsa Melayu sejati, yang berasal dari Riau dan Tanah Semenanjung Malaka. Mallincordt menerangkan bahwa bangsa Melayu di sekitar Pesisir ialah sebagian turunan dari penduduk Jawa pada masa Majapahit. Jajahan semacam itu memang banyak terdapat di Pesisir. Dan penduduk ini bisa datang dari Bangawan di sungai Sedulun dan Melayu Tarakan (Mallincordt, 1928: 48).
Barulah kira-kira tahun 1960 an sejak semaraknya pergerakan sebutan "Kalimantan" sebagai pengganti "Borneo" dahulu, tumbuhlah perkembangan baru dan lahir suatu sebutan terhadap penduduk asal Banjarmasin -- Hulu Sungai dengan nama "orang Banjar". Sejarah mereka merupakan suatu persekutuan hidup dengan pembawaan hidupnya sendiri (groepgemeenschap), mungkin dinobatkan pada nama pintu gerbang Kalimantan Selatan selama beberapa zaman, yaitu Banjarmasin (Riwut, 1993:194). Di Kotawaringin Borrata Suku Banjar bermukim di sekitar Sukamara. Mereka adalah para pedagang yang tangguh yang datang dari Sumatera dan pulau-pulau Melayu lainnya. Menurut penelitian etnologi mereka banyak bercampur dengan Bugis dan Makassar.
Kumpulan berbagai suku ini memakai bahasa sehari-hari campuran dan banyak yang memakai bahasa Banjar. Bahasa Banjar kuno, pada masa Kesultanan banyak mirip dengan bahasa Jawa kuno. Perbedaan bahasa Banjar. adalah berbeda dialek sedikit-sedikit menurut tempat tinggal, yang semuanya hampir bersamaan dengan dialek kelurahan dan kerajaan Banjar dahulu. Bahasa resmi Istana Kerajaan Banjar dahulu adalah bahasa Banjar, seperti yang dipakai dalam Undang-undang Sultan Adam. Suku Banjar mempunyai bermacam-macam hak dan kewajiban di bawah pimpinan Sultan. Mereka berpengaruh sekali dalam perdagangan, pendidikan dan penyebaran agama Islam, seperti di Jawa (Surabaya, Semarang, Cirebon, Bandung, Jakarta), Tambilahan (Sumatera), Kalimantan Utara, bahkan di Semenanjung Malaka (Riwut, 1993: 193).
Keturunan Sultan Banjarmasin kemudian banyak yang bekerja di pemerintah, berdagang atau partikulir antara lain Ir. Pangeran Gt. Mohammad Noor menjadi Gubernur Kalimantan yang pertama. Dalam rangka membebaskan Kalimantan dari Belanda beliau membentuk pasukan yang terkenal dengan nama Pasukan MN 1001 yang bertugas merebut Kalimantan dari tangan Belanda. MN 1001 artinya M(ohammad) N(oor) 1001 (dengan seribu satu macam usaha untuk merebut Kalimantan dari tangan Belanda). Di samping itu ada beberapa tokoh lain di Kalimantan keturunan Sultan Banjar seperti Mr. Gt. Major, Gt. Mohammad Tahrie, Pangeran Musa Ardikesuma, Gt. Mastur, Gt. Haridji Kesuma dan lain-lain.
Pengelompokan suku-suku Banjar antara lain (1) Banjar Kota tinggal di Banjarmasin, (2) Martapura di Martapura, (3) Kandangan di Kandangan, (4) Negara di Negara. (5) Alabio di Alabio, (6) Pamangkih di Pamangkih, (7) Amuntai di Amuntai, (8) Angkinang di Angkinang, (9) Barabai di Barabai, (10) Tanjung di Tanjung, (11) Margasari di Margasari, (12) Batang Atai di Batang Atai, dan (13) Kelua di Kelua (Riwut, 1993: 195).
Dari berbagai macam sumber
Penduduk asli yang tinggal di daerah ini adalah suku Dayak yang berindukkan Dayak Ngaju. Kedekatan suku dayak dengan sungai mengakibatkan mereka mengidentitaskan dirinya, atau masyarakatnya dengan nama sungai (Usop et al, 1995: I-6). Di Daerah Kotawaringin Borrata, sebelum berdirinya kerajaan Kotawaringin bermukim beberapa suku Dayak yakni (Nahan 1993):
1. Suku Dayak Arut: dibawah pimpinan Patih Patinggi Diumpang, berkedudukan di desa Pandau.
2. Suku Dayak Darat: dibawah pimpinan Demung Tujuh bersaudara yakni Demung Rayan, Demung Ajaran, Demung Cingka, Demung Guru, Demung Antah Gantung, Demung Semadi Jaya dan Demung Akar. Mereka mengirimkan upeti kepada kerajaan Majapahit, pakaian adat (ikat kepala) berwarna merah putih. Menurut legenda, tujuh demung tadi berasal dari tujuh gumpalan darah yang dilahirkan oleh Ratu Aji. Minyan Ronyai, istri Jambang Rawok yang datang dari Laut menggunakan perahu dan kemudian berdiam di atas bukit liarunting. Di Bukit inilah sang istri melahirkan tujuh gumpalan darah yang menjelma menjadi Demung Tujuh bersaudara yang merupakan cikal bakal suku Dayak Darat.
3. Suku Dayak Delang, Belantikan dan Batang Kawa: turunan Patih Sebatang dari pulau Sumatera dibawah pimpinan Jajar Malahui yang bergelar Patih Jayangpati, berkedudukan di desa Kudangan. Mengirimkan upeti kepada kerajaan Banjar sampai raja ketiga Sultan Mustainubillah.
4. Selain itu juga terdapat Dayak Jelai yang berdialek Jelai dan termasuk kelompok Dayak Ketungan. Mereka berdiam di daerah Jelai dan Kotawaringin Lama.
5. Dari keluarga dayak Ketungan ini, juga terdapat Dayak Bulik yang bertempat tinggal di daerah Sungai Bulik, di utara Kotawaringin Lama.
Menurut Ch.F.H. Dumont dahulu orang Dayak mendiami seluruh wilayah pulau baik daerah pantai maupun darat. Kedatangan orang Melayu, dari Sumatera dan Malaka mendesak orang Dayak yang bermukim di Pantai, mundur ke sebelah darat pulau Kalimantan. Selain orang Melayu, juga berdatangan orang Bugis dan Jawa mendiami pantai Timur dan Pantai Borrata pulau Kalimantan. Di Kalimantan sebelah Borrata berdatangan pula orang Tionghoa yang bekerja untuk pertambangan (Dumont, 1924).
Pada umumnya orang-orang Dayak memeluk agama Kaharingan atau Kristen. Sedang orang Dayak yang telah memeluk agama Islam menyebut dirinya Melayu. Di daerah Kotawaringin Borrata, orang melayu banyak yang bercampur dengan suku dayak dan menumbuhkan satu kebudayaan yang sangat unik baik dari arsitektur Bangunan maupun kehidupan sehari-hari.
Selain penduduk Melayu, beberapa ahli berpendapat bahwa sebagian penduduk sepanjang pantai laut Kalimantan, termasuk Kotawaringin Borrata adalah campuran antara penduduk asli (Dayak) dengan pendatang antara lain dengan orang Tionghoa yang datang sebagai pedagang atau pekerja. Orang-orang Tionghoa ini banyak kita jumpai di kota-kota seperti Pangkalan Bun, Sukamara, bahkan di kota sekecil Nanga Bulik. Selain itu, juga terjadi percampuran antara orang Dayak dengan orang India yang beragama Hindu.
Pembagian bangsa-bangsa Melayu di Kalimantan sukar kita jelaskan, karena perkataan suku Melayu digunakan hanya dalam pengertian perbedaan agama, tidak dalam pengertian asal usul suku/bangsa. Meskipun memang banyak juga bangsa Melayu sejati, yang berasal dari Riau dan Tanah Semenanjung Malaka. Mallincordt menerangkan bahwa bangsa Melayu di sekitar Pesisir ialah sebagian turunan dari penduduk Jawa pada masa Majapahit. Jajahan semacam itu memang banyak terdapat di Pesisir. Dan penduduk ini bisa datang dari Bangawan di sungai Sedulun dan Melayu Tarakan (Mallincordt, 1928: 48).
Barulah kira-kira tahun 1960 an sejak semaraknya pergerakan sebutan "Kalimantan" sebagai pengganti "Borneo" dahulu, tumbuhlah perkembangan baru dan lahir suatu sebutan terhadap penduduk asal Banjarmasin -- Hulu Sungai dengan nama "orang Banjar". Sejarah mereka merupakan suatu persekutuan hidup dengan pembawaan hidupnya sendiri (groepgemeenschap), mungkin dinobatkan pada nama pintu gerbang Kalimantan Selatan selama beberapa zaman, yaitu Banjarmasin (Riwut, 1993:194). Di Kotawaringin Borrata Suku Banjar bermukim di sekitar Sukamara. Mereka adalah para pedagang yang tangguh yang datang dari Sumatera dan pulau-pulau Melayu lainnya. Menurut penelitian etnologi mereka banyak bercampur dengan Bugis dan Makassar.
Kumpulan berbagai suku ini memakai bahasa sehari-hari campuran dan banyak yang memakai bahasa Banjar. Bahasa Banjar kuno, pada masa Kesultanan banyak mirip dengan bahasa Jawa kuno. Perbedaan bahasa Banjar. adalah berbeda dialek sedikit-sedikit menurut tempat tinggal, yang semuanya hampir bersamaan dengan dialek kelurahan dan kerajaan Banjar dahulu. Bahasa resmi Istana Kerajaan Banjar dahulu adalah bahasa Banjar, seperti yang dipakai dalam Undang-undang Sultan Adam. Suku Banjar mempunyai bermacam-macam hak dan kewajiban di bawah pimpinan Sultan. Mereka berpengaruh sekali dalam perdagangan, pendidikan dan penyebaran agama Islam, seperti di Jawa (Surabaya, Semarang, Cirebon, Bandung, Jakarta), Tambilahan (Sumatera), Kalimantan Utara, bahkan di Semenanjung Malaka (Riwut, 1993: 193).
Keturunan Sultan Banjarmasin kemudian banyak yang bekerja di pemerintah, berdagang atau partikulir antara lain Ir. Pangeran Gt. Mohammad Noor menjadi Gubernur Kalimantan yang pertama. Dalam rangka membebaskan Kalimantan dari Belanda beliau membentuk pasukan yang terkenal dengan nama Pasukan MN 1001 yang bertugas merebut Kalimantan dari tangan Belanda. MN 1001 artinya M(ohammad) N(oor) 1001 (dengan seribu satu macam usaha untuk merebut Kalimantan dari tangan Belanda). Di samping itu ada beberapa tokoh lain di Kalimantan keturunan Sultan Banjar seperti Mr. Gt. Major, Gt. Mohammad Tahrie, Pangeran Musa Ardikesuma, Gt. Mastur, Gt. Haridji Kesuma dan lain-lain.
Pengelompokan suku-suku Banjar antara lain (1) Banjar Kota tinggal di Banjarmasin, (2) Martapura di Martapura, (3) Kandangan di Kandangan, (4) Negara di Negara. (5) Alabio di Alabio, (6) Pamangkih di Pamangkih, (7) Amuntai di Amuntai, (8) Angkinang di Angkinang, (9) Barabai di Barabai, (10) Tanjung di Tanjung, (11) Margasari di Margasari, (12) Batang Atai di Batang Atai, dan (13) Kelua di Kelua (Riwut, 1993: 195).
Dari berbagai macam sumber
Sumber Repost : http://kahawakbilem.blogspot.com/2010/10/awal-mula-pemukiman-di-kotawaringin.html
ASAL USUL DESA PASIR PANJANG
![]() |
| Rumah Betang |
Pasir Panjang merupakan sebuah desa yang berada di Kota Pangkalan Bun.
Dilihat dari letaknya, desa ini terletak di tempat yang sangat
strategis karena keberadannya di tengah-tengah antara Kota Pangkalan Bun
dan Pelabuhan Kumai. Di desa ini mengalir Sungai Kumai yang menjadi
sumber pemberdaharaan air desa.
Berbicara tentang asal-usul desa tidak bisa lepas dari peran Kerajaan
Kotawaringin. Menurut cerita penduduk, awal dibukanya desa diprakarsai
oleh seorang utusan Kerajaan Kotawaringin yang mengemban sebuah tugas.
Utusan tersebut bernama Ranggae yang merupakan seorang bersuku dayak
yang merupakan orang kepercayaan raja pada masa itu. Tidak jelas kapan
perintah tersebut turun. Setelah beberapa lama mengemban tugas, maka
Ranggae ingin kembali ke kerajaan. Namun, raja memerintahkan Ranggae
untuk tetap tinggal di daerah tersebut. Akhirnya, Ranggae pun menetap
dan mulai membangun desa tersebut. Keberhasilannya membangun desa
menjadikannya disegani sebagai komunitas Dayak.
Setelah Ranggae berhasil membangun sebuah desa yang cukup makmur,
maka raja pun menghibahkan tanah tersebut kepadanya. Desa tersebut
kemudian diberi nama dengan Desa Pasir Panjang karena daerahnya yang
memiliki daerah pasir yang cukup luas dan memanjang dari daerah
aliran sungai sampai ke arah Kota Pangkalan Bun. Mata pencaharian
penduduk desa Pasir Panjang adalah petani dan nelayan yang sesuai dengan
tanahnya yang subur dan aliran sungai yang kaya dengan ikan pada masa
itu. Kepala adat Desa Pasir Panjang yang pertama dikenal dengan Renggawa
bagi pria dan wanitanya dikenal dengan Renggawi.
Jika dilihat dari periodisasinya, kemungkinan turunnya perintah ini
terjadi pada masa awal berdirinya Kerajaan Kotawaringin. Kerajaan ini
baru dibangun oleh Pangeran Adipati Anta Kesuma, putra raja Banjar
Sultan Musta’in Billah (1650-1678), yang pergi ke arah Barat pada 1679.
Di masa pemerintahan sultan pertama inilah disusun undang-undang
kerajaan Kotawaringin yakni Kitab Kanun Kuntara. Selain membangun
Istana Luhur sebagai keraton kerajaan Kotawaringin, Sang pangeran juga
membangun Perpatih (rumah patih) Gadong Bundar Nurhayati dan Perdipati
(panglima perang) Gadong Asam. Selain itu untuk keperluan perang
dibangun pula Pa'agungan, sebagai tempat menyimpan senjata atau pusaka,
membangun surau untuk keperluan ibadat, dan membangun sebuah paseban
sebagai tempat para bawahan dan rakyat menghadap sultan. Kemungkinan
pada masa inilah raja mengutus beberapa orang untuk memperluas dan
menjaga daerah milik kerajaan.
Sumber : http://yamicloud.blogspot.com/2013/04/asal-usul-desa-pasir-panjang.html
Sejarah Kerajaan Kotawaringin (Versi Lengkap)
Informasi tentang Sejarah Kerajaan Kutaringin (biasa dikenal oleh orang umum dengan Kerajaan Kotawaringin) bisa sohib akses di : http://melayuonline.com/ind/history/dig/501/kesultanan-kotawaringin/
yang menyajikan lebih lengkap dengan banyak sumber .... atau bisa juga dari versi ju. lontaan pada tahun 1976 di : http://krupuklicious.wordpress.com/2012/11/28/ringkasan-sejarah-berdirinya-kota-waringin/
Semoga bermanfaat !!!!
yang menyajikan lebih lengkap dengan banyak sumber .... atau bisa juga dari versi ju. lontaan pada tahun 1976 di : http://krupuklicious.wordpress.com/2012/11/28/ringkasan-sejarah-berdirinya-kota-waringin/
Semoga bermanfaat !!!!
Langganan:
Postingan (Atom)








