Komunitas Blogger Kotawaringin Barat

Islamic Calendar

Islamic Widget

Kamis, 20 Desember 2012

Profil Kecamatan Arut Selatan

KEPENDUDUKAN 
Laju Pertumbuhan / th sebesar     3.10% /th
Jumlah penduduk 2007 sebesar    89.607 jiwa
PERTANIAN
1.  Jumlah Luas Panen Produksi Padi Sawah Dan Padi Ladang tahun 2007
Uraian
Luas Panen (Ha)
Produksi (Ton)
Padi Sawah
224
707,58
Padi Ladang
1.342
2.018.10


2. Jumlah Luas Panen Produksi Jagung, Ubi jalar dan ubi kayu tahun 2007
Uraian
Luas Panen (Ha)
Produksi (Ton)
Jagung
117
246,07
Ubi kayu
115
954,19
Ubi jalar
46
271.07

3. Jumlah Luas Panen Produksi Kacang Tanah, kacang kedelai & kacang hijau th 2007
Uraian
Luas Panen (Ha)
Produksi (Ton)
Kacang Tanah
61
51.56
Kedelai
6
5
Kacang Hijau
24
14.01
INDUSTRI
Uraian
Jumlah
Industri Pangan
21
Industri Sandang
1
Industri Kimia Dan Bahan bangunan
34
Logam & Elektronika
12

Kondisi Geografis Daerah Kotawaringin Barat

KONDISI GEOGRAFIS DAERAH
Wilayah Kabupaten Kotawaringin memiliki luas wilayah sebesar 1.075.900 Ha atau sekitar 62 % luas dari luas wilayah propinsi Kalimantan Tengah. Luas wilayah tersebut  diatas berbatasan dengan sebelah utara dengan Kabupaten Lamandau, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Seruyan, sebelah selatan  berbatasan dengan Laut  Jawa dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lamandau dan Sukamara.
Berikut ini adalah data letak geografis Kabupaten Kotawaringin Barat :
Ibukota     : Pangkalan Bun
Luas Wilayah : 10.759 Km ( 1.075.900 Ha )
Letak Geografis DaerahBujur Timur  : 110”25’26”-112”50’36”
Lintang Selatan : 1”19’35”-3’36’59”
Iklim DaerahCurah Hujan  : 1.849,mm/th
Suhu rata-rata   : 27’480C
Suhu Minimum  : 21.60C – 23.40C
Suhu Maksimum : 31,7 – 33,20C
Kelembaban  : 83 – 89 %
Bentuk Wilayah Berdasarkan Fisiografi wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat digolongkan menjadi empat bagian :-Daratan-Berombak (daerah utara)-Berombak dan berbukit-Daerah berbukit

Dinkes Tetapkan Status Waspada

Penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD) merenggut satu korban jiwa yang bernama Niel (5), meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan sekitar 20 jam di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun.
Informasi yang dihimpun Koran ini, warga Jalan Pangeran Adipati Gg. Beringin, Kelurahan Raja Kecamatan Arut Selatan meninggal dunia Selasa siang (18/12). Meninggalnya bocah tersebut mengejutkan orang tua dan pihak keluarga Niel, sebelumnya mengalami panas tinggi selama tiga hari. Baru hari keempat korban dibawa ke RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun setelah mengalami muntah.
Niel sendiri sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit kurang lebih 20 jam, namun akibat kondisi korban yang sudah parah sebelumnya, membuat nyawa korban tidak tertolong lagi. Asni, orang tua korban sempat jatuh pingsan beberapa kali mengetahui anaknya meninggal dunia.
Shinta, tetangga koban mengatakan sebelum sakit, Niel tampak segar dan tidak ada tanda-tanda seperti orang sakit. “Minggu siang dia masih asyik bermain dengan anak saya. Tapi setelah itu mengalami panas,” kata Shinta.
Puncaknya, Niel mengalami muntah pada senin malam (17/12), Orang tua Neil langsung membawa ke Rumah Sakit. “Kalau kepastiannya tidak tahu, tapi yang jelas kami mendengar akibat DBD. Hal tersebut terlihat ketika tubuh korban terdapat bercak-bercak merah dan keluar darah di bagian tertentu,” ujarnya.
Sebenarnya, lanjut Shinta, di daerah tempatnya tinggal sudah banyak anak yang terserang DBD sampai keluar masuk rumah sakit. Namun, hingga meninggal cuma Neil.
Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan, Dinkes Kobar, Samsudin saat dikonfirmasi membenarkan korban meninggal akibat DBD. Namun untuk memastikan apakah murni disebabkan penyakit DBD, masih melakukan pengecekan dilapangan dan menelusuri riwayat kesehatannya.
“Iya benar memang informasinya itu karena penyakit DBD, yang lokasinya berada dilingkup Puskesmas Arsel, tetapi kita perlu pastikan dulu dengan menelusuri riwayatnya seperti apa, serta melakukan pengecekan ke lapangan, hasilnya mungkin nanti sore bisa diketahui apakah memang karena DBD atau karena sebab lain. Kita juga sudah menetapkan DBD di Kobar dengan status waspada,” ujar Samsudin. Kemarin (19/12)
Informasi lainnya, kata Samsudin di Sungai Rangit juga ada korban meninggal karena DBD. Pihaknya langsung ke lokasi untuk melakukan pengecekan. Sebagai antisipasi yang pertama dilakukan dengan melakukan pengecekan terlebih dahulu ketika menerima informasi. Dinkes juga gencar melakukan fogging atau pengasapan.
Terpisah Kepala Puskesmas Arsel, dr. Rita mengatakan di bulan November tercatat 3 pasien DBD ditangani pihaknya. Sementara di bulan Desember ada enam pasien. “Untuk Desember saja, sudah ada enam kasus DBD dan informasinya malah ada yang meninggal tetapi saya tidak berani pastikan itu karena DBD atau tidak, mungkin kroscek saja ke rumah sakit karena dirujuk ke sana,” ungkap Rita.
“Sementara itu, saat dihubungi Koran ini, Kepala Rumah Sakit Sultan Imanuddin Pangkalan Bun. Sayuti Syamsul, juga membenarkan bahwa pasien DBD mengalami peningkatan, tetapi ia mengaku tidak mengetahui persis berapa datanya yang masuk karena tidak sedang berada di kantor.
Kemudian ditanya apakah sudah ada pasien yang meninggal akibat penyakit DBD seperti dikabarkan tersebut, Sayuti juga belum bisa memastikan bisa hubungi kepala Bidang Pelayanan Publik RSUD,” ungkap Suyuti menjelaskan.
Dikalangan masyarakat kasus DBD sudah ramai diperbincangkan. Pasalnya sudah membuat masyarakat khawatir dan mulai banyak menyerang warga. Seperti dikomplek Mendawai kawasan Korindo, warga juga mengeluhkan karena sudah banyak warga didaerah tersebut terkena penyakit DBD. “Pemkab Kobar harus cepat bergerak dengan adanya keluhan masyarakat ini, karena warga sudah banyak yang sakit karena DBD,” ungkap salah seorang warga kepada Koran ini kemarin. (Sumber Radar Sampit, 20 Desember 2012)

Istri Pejabat Ziarah Pahlawan

Banyak cara yang bisa dilakukan memperingati Hari Ibu (PHI) ke-84. Bagi sejumlah istri pejabat dan tim pengerak PKK Kobar, peringatan memperingati hari ibu dilakukan dengan ziarah ke taman makam pahlawan Indra Pura Pangkalan Bun kemarin (19/12).
“Ziarah ini dilakukan sebagai rangkaian kegiatan Peringatan Hari Ibu ke-84 tingkat Kabupaten Kobar. Hal lainnya yang telah dilaksanakan yakni bakti sosial dan lomba mancing,” kata Katua Panitia Pelaksana Ny. Desmalasanti Bambang Purwanto usai ziarah.
“Ini kita lakukan untuk mengenang bagaimana perjuangan para pahlawan, karena apa yang kita peroleh saat ini tidak terlepas dari perjuangan para pahlawan kita. Untuk itulah, pada kegiatan PHI ini, kita laksanakan ziarah ke makam pahlawan,” tambahnya.
Menurutnya pada masa dahulu para perempuan juga ikut berjuang dalam merebut kemerdekaan RI. Jadi ziarah ini juga untuk introspeksi diri dengan apa yang sudah dilakukan pahlawan untuk negara ini.
Disebutkannya, kegiatan ini juga untuk mengapresiasi kaum perempuan khususnya para ibu di Kobar serta meningkatkan martabat dalam menyukseskan kesejahteraan dalam rumah tangga dan bertanggung jawab menyelesaikan tugas pekerjaan di luar rumah.
“Sehingga persamaan gender di Kobar bisa diwujudkan kaum perempuan berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan dan mendukung pembangunan,” tukasnya. (Sumber Radar Sampit, 20 Desember 2012)

Targetkan Piala Adipura Kencana

Sudah enam kali Kota Pangkalan Bun meraih adipura kategori kota kecil terbersih. Tahun 2013, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menargetkan piala adipura kencana.
“Target untuk tahun yang akan datang yakni piala adipura kencana, satu tingkat dari piala yang telah kita dapatkan tahun 2012,” kata Wakil Bupati Kobar Bambang Purwanto, Selasa (178/12).
Dikatakan Bambang, untuk mendapatkan adipura kencana tidak mudah. Selain kebersihan, Pangkalan Bun harus mempunyai penyerapan pengelolaan sampah atau daur ulang sampah sebanyak 20 persen. Hal itu tentunya harus diimbangi dengan cara mengubah pola pikir masyarakat, supaya terus perduli terhadap lingkungan. Selain itu, kota harus diperbanyak pohon-pohon agar tetap rindang dan nyaman.
Diakuinya, persoalan yang masih mendera Pangkalan Bun adalah sampah yang sering menumpuk di tempat pembuangan sementara (TPS).
Sistem pengangkutan sampah ini perlu diperbaiki supaya target adipura tercapai. “Kalau masalah sampah belum bisa diselesaikan itu merupakan menjadi salah satu kendala bagi pemerintah daerah untuk bisa mendapatkan piala adipura kencana,” ujarnya. (Sumber Radar Sampit, 20 Desember 2012)

Rabu, 19 Desember 2012

Tiga Ekor Orangutan Dilepasliarkan

Tiga ekor orangutan akhirnya dapat ke habitat aslinya di hutan. Ketiganya yakni anak orangutan betina berumur sekitar empat tahun, orang utan betina, dewasa berumur 12 tahun, dan orangutan jantan berumur 25 tahun.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Kalteng Hartono mengatakan, ketiga ekor orang utan tersebut dilepas liarkan di kawasan Suaka Margasatwa Sungai Lamandau. Joson, nama yang diberikan untuk anak orangutan tadi, akan menjalani fase soft release di camp reintrosduksi di dalam kawasan SM Lamadau. Setelah cukup dewasa dan memiliki banyak keterampilan yang diperlukan untuk bertahan hidup dialam liar, Joson dapat sepenuhnya dilepaskan, Jason kini dapat tinggal di hutan setiap hari, dan memiliki kesempatan hidup bebas di alam liar.
Sebelumnya sudah sekitar empat bulan lebih Joson hidup didalam kandang dan dipelihara oleh seorang ibu bernama Nepo, warga Desa Dawak Riam Durian, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Nepo menemukan Joson di kebunnya, lalu menyerahkan Joson pada Tigor yang saat itu sedang berada di Desa Dawak untuk melakukan kunjungan rutin. Dihari itu Nepo sadar bahwa Joson adalah satwa liar yang harus hidup di dalam hutan. Dengan menangis tersedu-sedu Nepo menitipkan Joson pada Tigor untuk dibawa ke Kantor SKW II BKSDA Kalteng. Sementara, orangutan betina dewasa diberi nama Aan dipindahkan dari kebun sawit di daerah Runtu pada Rabu 10 Oktober 2012.
Setelah mendapat informasi dari Muda Yulivan, Polisi Kehutanan SKW II BKSDA Kalteng. Tim langsung berangkat menuju lokasi. Di sana Aan bersembunyi di ujung pohon di antara daun-daun sawit yang sengaja di tumpuk di badannya. Setelah yang pertama lepas, akhirnya pada yang kedua kali, Uduk anggota tim rescue staf OF dapat menancapkan jarum bius ke tangan Aan.
Ketika ditimbang berat Aan hanya 25 kilogram. Sebelah matanya terlihat buta, karena masih ada peluru yang bersarang tepat di atas matanya. Aan kemudian di masukan kedalam kandang dan dibawa menuju Kantor SKW II BKSDA Kalteng.
Berdasarkan informasi dari pihak perusahaan sawit, Aan telah sebulan berkeliaran didalam kebun. Aan kemudian dilaporkan ke BKSDA Kalteng untuk ditangkap dan dipindahkan ke habitat alamiahnya. Aan diperkirakan datang dari hutan yang berjarak sekitar satu kilometer dari kebun sawit.
Orangutan jantan diberi nama Herlino juga dipindahkan dari kebun sawit di daerah Kalap. Dokter hewan dari Orangutan Foundation berhasil menyelamatkan Herlino yang terlihat mengantung di pohon nangka yang tumbuh di kebun warga di seberang pabrik pengolahan sawit. Selama berada di Kantor SKW II, kondisi kesehatan ketiga orangutan tersebut diperiksa oleh Drh. Zulfiqri. Setelah dinyatakan sehat, ketiganya siap dikembalikan dan dilepaskan di hutan.
SM Sungai Lamsandau adalah kawasan hutan konservasi yang ditetapkan Menteri Kehutanan sebagai lokasi pelepasliaran orangutan. Di kawasan ini ada enam camp reintroduksi yang menjalankan program release. Pada fase soft realese, para petugas lapangan memonitor dan mengawasi setiap orangutan dan satwa liar  lain yang dilepas di hutan areal camp. Setelah dinilai memiliki keterampilan untuk bertahan hidup di alam liar maka satwa akan benar-benar dilepaskan. Keenam camp reintroduksi ini dioperasional oleh Orangutan Foundation UK sebagai mitra kerja BKSADA Kalteng. (Sumber Radar Sampit, 13 Oktober 2012)

Bekas Warung Remang akan Dijadikan Wisata Kuliner

Pembongkaran warung remang-remang secara paksa oleh Pemerintah Kabupaten Kobar menuai protes dari pemilik warung karena kehilangan mata pencarian. Sebagai gantinya, Pemkab akan mendirikan bangunan permanen di kawasan Bundaran Pancasila sebagai tempat wisata kuliner.
Wakil Bupati Kobar Bambang Purwanto mengatakan, ditutupnya warung remang-remang itu lantaran sudah menyalahi aturan. Banyak warung menjual miras, padahal itu sudah dilarang keras oleh pemerintah daerah.
“Bagaimana tidak ditutup kalau setiap hari menimbulkan maksiat, lebih baik segera ditutup. Bahkan peringatan sampai tiga kali untuk pembongkaran tenda-tenda tetap saja tidak digubris,” kata Bambang saat dibincangi kemarin siang.
Terkait para pemilik warung yang kehilangan mata pencarian, Bambang menyatakan bahwa itu kesalahan pemilik warung sendiri. Pemerintah telah memberikan keleluasaan tapi disalahgunakan untuk menjual miras. “Sebenarnya itu kan salah sendiri. Kalau jualanya bagus, tentu tidak sampai pemerintah melakukan tindakan. Jika hanya jualan makanan sama jus saja, pemilik warung bakal terus dibina, tapi yang dilakukan ini justru sebaliknya. Warungnya tidak ada penerangan sama sekali, hanya lampu warna warni saja,” beber Wabup Bambang.
Penutupan warung remang-renmang di kawasan Bundaran Pancasila ini kata Bambang sebagai langkah untuk menata lingkungan kota menjadi lebih baik lagi. Bundaran Pancasila sudah menjadi ikon Kota Pangkalan Bun ini bakal dijadikan tempat wisata kuliner.
“Kami rencanakan di tempat itu ada wisata kuliner dengan bangunan permanen di atas lahan milik pemda. Rencana ini nanti bakal dibangun lantai dua, diisi penjual makanan dan minuman,” ujar Bambang.
Mengenai pedagangnya bisa saja dari para pemilik warung yang telah digusur. Namun ketentuanya harus menyediakan makanan dan minuman yang dianjurkan pemerintah. “Apabila masih melanggar dan masih melayani miras itu tentunya bakal langsung kami serahkan kepada pihak kepolisian untuk ditindak sesuai proses hukum yang berlaku,” pungkasnya. (Sumber Radar Sampit, 17 Oktober 2012)